Gerakan Kembali ke Desa, Gerakan Membangun Desa Madani

Gerakan Kembali ke Desa, Gerakan Membangun Desa Madani

Gerakan Kembali ke Desa, Gerakan Membangun Desa Madani

Oleh : Ust Harry Santosa

Jika sistem persekolahan terus berorientasi urbanisasi, menggiring anak2 desa utk sugih & jadi priyayi di kota besar, walhasil kota jadi tempat terburuk dan terzhalim (biadab) bagi kehidupan.

Jika mindset hidup bahagia dari para orangtua adalah masih saja obsesi kaya, menjadi penguasa dan hidup makmur di perkotaan maka anak anak mereka nanti akan terus memadati pinggiran kota, berlomba merusak air dan tanah, memakan makanan sampah instan ala pabrik, menghirup udara dari knalpot mobil cicilan yang terus ditawarkan dengan murah meriah, meminum air dari pipa saringan limbah dstnya. Sungguh kita telah menyiapkan generasi kebiAdaban bukan generasi berperAdaban.

Orangtua Urban dan SubUrban cenderung melahirkan anak anak gagal didik di perkotaan akibat fatherless dan kini juga motherless karena Ortu muda sibuk mengais upah, bertahan hidup dengan makanan instan dan mencicil rumah di pinggiran, anak anak dititipkan seharian di sekolah sekolah yang juga berorientasi kuli peradaban.

Mari teman teman keluarga muda dan juga keluarga tua, jangan mau menjadi kuli kebiadan sistem yang dibuat bangsa kera. Anak anak kita harus menjadi manusia seutuhnya, hidup bahagia dalam semua aspek fitrahnya dan dipandu Kitabullah.

Pilihannya hanya satu, merdeka dari sistem dan membuat Model Baru Peradaban sendiri secara bersama.

Mari kita mulai Gerakan Hijrah Kembali ke Desa, namun bukan hanya kembali tetapi kita persiapkan Mahjar (tempat hijrahnya) dengan sebaik baiknya.

Gerakan Hijrah kembali ke Desa harus dibarengi dengan Gerakan Membangun Desa Madani, sebuah wilayah atau teritori yang mandiri dan berdaulat dalam dalam pangan, energi, pendidikan, ekonomi dstnya. Gambaran tingkat berdaulatnya adalah jika misalnya Indonesia bubar, maka Desa Madani masih ada karena tak tergantung oleh negara apalagi fluktuasi dolar dan impor.

Sudah banyak yang memulai, kita tinggal ada kemauan untuk belajar dan menerapkannya lalu mengintegrasikan dengan Misi Keluarga kita.

Bangsa Jepang sudah mulai meramalkan, bahwa apabila kini Era Industrial 4.0 dengan ciri khas digitalisasi dan robotisasi yang sangat tidak manusiawi, maka akan datang kesadaran baru yaitu Era Society 5.0 dengan ciri khas personalisasi dengan wujud kembali ke Desa.

Hidup di desa, hidup lebih fitri dan alami, namun teknologi canggih 24 jam. Andai 70.000 desa desa di Indonesia, berubah menjadi Desa Madani yang berdaulat dalam pangan, energi, pendidikan dan pemberdayaan ekonomi berbasis keunggulan lokal dsbnya maka Indonesia akan berperadaban mulia.

Sahabat, hari ini sayapun masih tinggal di kota, namun sejak 10 tahun lalu saya mempersiapkan diri dan keluarga saya untuk kembali ke Desa. Tentu bukan untuk pensiun menikmati Villa atau mendirikan hotel atau beribadah ritual semata atau desa sebagai base camp namun tetap kerja di kota.... bukan! Namun pacuan amal menegakkan peradaban dari Desa dalam menuju keridhaan Allah SWT.

Yuk, bagi yang belum, daripada melanjutkan hidup yang tak jelas dan sudah pasti gagal di kota, lebih baik memulai sesuatu yang baru, ayo rencanakan dalam beberapa tahun ke depan untuk kembali Hijrah ke desa membangun Desa Madani seperti Madinah demi anak dan keturunan juga bangsa Indonesia yang maju dan berdaulat.

Salam Peradaban

#fitrahbasedlife