Ibu Melahirkan di Lombok Timur Akan di Rapid Test

Ibu Melahirkan di Lombok Timur Akan di Rapid Test

Dinas Kesehatan Lombok Timur akan memberlakukan sistem penanganan baru terkait dengan pasien ibu yang akan melahirkan baik di puskesmas maupun dirumah sakit. Terobosan itu untuk mengantisipasi munculnya kasus serupa di rumah sakit Kota Mataram saat bayi yang dilahirkan meninggal dunia sat di rapid test.

Kepala Dinas Kesehatan Lombok Timur, dr. H. Hasbi Santoso, SKM, bakal menerbitkan kebijakan baru itu dalam mencegah kejadian yang baru saja terjadi di Kota mataram disalah satu rumah sakit.
Secara normatif kata Hasbi, prosedur yang dilakukan rumah sakit bahwa pasien rujukan dari puskesmas harus dilakukan rapid test. Dengan demikian itu, rumah sakit bisa memilah jikalau ada pasien reaktif untuk kemudian pasien bersangkutan segera mendapatkan ruang perawatan isolasi.
Sebaliknya, jika non reaktif dapat dimasukan ke ruang perawatan khsus kebidanan.

Meski demikian, H. Hasbi mengakui jika menerapkan rapid test pada pasien ibu yang akan melahirkan sangat menghambat. Sebab, jika itu bersifat rujukan maka dipastikan keadaan pasien pasti darurat. Sehingga butuh penanganan darurat

“Kalau darurat pasti memperoleh rujukan ke rumah sakit, sebab ada dua nyawa yang harus diselamatkan,” ujar Hasbi kepada wartawan, Jum;at (21/8).

Rapid test ini merupakan salah satu persyaratan, meski secara faktual sedikit menghambat.
Karenanya, apabila pasien dirujuk pada jam kerja di puskesmas maka pasien bersangkutan dapat dilakukan dirapid test. Sedangkan, diluar jam kerja menjadi kewajiban rumah sakit untuk menyiapkan alat rapid test.
Untuk mendukung kebijakan tersebut, tambah Hasbi, Dikes Lotim akan mensuplai alat rapid test kepada rumah sakit bersangkutan.
“Kami berikan berapapun kebutuhan alat Rapid test. Namun secara hitung-hitungan kebutuhan dirumah sakit berkisar antara 250-350 per bulan,” sebutnya.

Belajar dari pengalaman kasus yang terjadi di rumah sakit kota Mataram, tampaknya tidak dilakukan Rapid test. Sehingga celah ini menjadi pemicu bahwa bayi dari pasien ibu yang melahirkan itu yang menyebabkan meninggal dunia.
Kedepan ujar dr. Hasbi, Dikes Lotim akan minta pengecualian untuk rumah sakit khusus pasien kebidanan.
Sementara, pasien diluar kebidanan bisa menerapkan Standar Operasional Prosedural (SOP).
Seluruh pasien kebidanan dirumah sakit pada layanan penatalaksanaannya harus menggunakan standar Covid-19, sehingga dapat terlayani dengan baik.

Hingga saat ini, Dinas Kesehatan Lotim telah mengadakan sebanyak 12.000 alat rapid test. Alat test tersebut juga akan diperuntukan bagi kalangan pelajar yang ingin belajar keluar daerah.
“Salah satu indikator IPM adalah angka kematian ibu dan bayi. Sedangkan Lotim berada pada urutan kedepan,” tandasnya.

.Sumber : https://wartarinjani.net/dikes-lotim-berlakukan-kebijakan-baru-terkait-pasien-ibu-melahirkan/